• SMA Negeri 1 Kramat

  • Menuju Sekolah Adi Wiyata
  • Jl. Garuda No. 1a Bongkok

Patri Panci, Mengetok dengan Hati, karena Empati

“Hasil tidak akan mengkhianati usaha” tentunya tidak asing lagi ditelinga kita. Yang mana quote tersebut sering digunakan sebagai kalimat motivasi yang bisa menjadi pecut untuk memacu semangat. Meskipun kadang hasil yang didapat tak sebanding dengan keringat yang diteteskan. Seperti kisah pilu Pak Aji, seorang patri panci keliling yang masih semangat bekerja menafkahi anak dan istrinya. Usianya tak lagi muda, kulit keriputnya menggambarkan usianya, dalam tatapan dan senyumnya ada keikhlasan dan kesabaran, otot kakinya menjadi saksi bahwa sudah ribuan kilometer jarak yang ditempuh sebagai tukang patri panci. Bukan sepeda motor atau pangkalan yang beliau gunakan untuk menawarkan jasanya, melainkan dengan sebuah sepada tua yang terlihat sudah usang dengan karat menutupi sepedanya. Ya, beliau tak hanya seorang tukang patri panci keliling, dari desa ke desa bahkan lintas kecamatan pun beliau lalui untuk menawarkan jasanya. Dihari tuanya, Pak Aji masih berjuang dengan semangat tinggi. Siapa lagi yang diperjuangkan kalau bukan keluarga kecilnya.

“Soale aku ora duwe keahlian maning selain nambal panci, Nok. Ditambah maning eling keadaan ning omah, kiye sing dadi alasane tetep bertahan” (karena keterbatasan keterampilan yang saya punya, serta keluarga kecil dirumah, ini yang menjadikan saya harus bertahan menjadi seorang tukang patri panci, Dek). Terlihat sangat jelas perjuangannya, bukan? Pak Aji yang lebih mementingkan keluarga kecilnya daripada diri sendiri. Seringkali terbesit dihatinya, lebih baik dia yang menanggung lapar daripada melihat anak dan istrinya yang kelaparan. Maka dari itu dengan kemampuan yang dimilikinya beliau gunakan untuk menghidupi anak dan istrinya. Selalu ada harapan yang tidak terhenti seperti kayuhan sepeda tuanya. Meskipun kondisinya memprihatinkan tetapi Pak Aji tidak pernah berputus asa.

            “Wong sing nambal panci saiki jarang nemen. Akehe pada tuku sing anyar” (orang yang menggunakan jasa patri panci di zaman sekarang sudah jarang sekali, Karena mereka memilih untuk membeli panci yang baru daripada mematrinya). Usahanya begitu berat dengan semangat begitu hebat. Kenapa? Seperti yang kita tahu, hidup dizaman canggih dengan segala kemudahan tentu saja masyarakat lebih memilih membeli yang baru daripada mematri. Apalagi untuk sebuah panci. Mudah didapat dengan harga yang bersahabat. Pasar tradisional maupun pasar modern bahkan toko online sekalipun banyak yang menjual peralatan rumah tangga, khususnya panci. Kondisi tersebut merubah pola pikir manusia. Pada akhirnya, patri panci ini semakin tidak dilirik, bisa dibilang semesta tak lagi berpihak kepadanya. Bayangkan saja betapa kerasnya kehidupan Pak Aji, namun semangatnya tak pernah pudar.

Dari kalimat yang diutarakan Pak Aji selalu mencerminkan ketulusan hatinya. “Pokoke yen metu sing omah kudu bismillah, kudu semangat ben ana wong sing gelem nambal pancine” (pokoknya kalau keluar dari rumah harus bismillah, harus semangat dengan harapan ada orang yang berempati,  mau mematri pancinya. Lalu, siapakah orang yang menggunakan jasa Pak Aji? Bisa dibilang dari ratusan kilometer jarak yang ditempuh hanya hitungan jari yang menggunakan jasanya. Mereka yang menggunakan jasanya bukan karena tidak mampu untuk membeli panci baru, tapi itu semua karena rasa empati yang membuat mereka memilih mematri panci. “Asline yen tuku anyar ya kuat, tapi kayong melas nemen ndelengna bapake.” (Sebenarnya ketika membeli yang baru ya mampu, tetapi rasanya kasihan sama Pak Aji). Adanya rasa empati ini menjadikan seseorang bisa merasakan seandainya kita berada diposisi pematri panci.

Hasil yang didapatkan tak sebanyak dengan kesabaran dan keikhlasannya. “Duite olihe ora sepira, Nok. Aku ngregani tambal panci sing per lubang cuma Rp 6.000. Tapi dong lubange lumayan amba diregani Rp 10.000 per lubange” (Uang yang saya dapatkan tidak seberapa. Untuk harga patri panci per lubang itu Rp 6.000 , tetapi ketika lubangnya lumayan besar dipatok harga Rp 10.000  per lubang). Tidak jarang dalam sehari Pak Aji pulang hanya membawa hasil yang habis untuk kebutuhan hari itu juga. Pendapatan yang dihasilkan Pak Aji bisa dibilang sangat sedikit. Keringat bercucuran yang selalu membasahi tubuhnya selalu dirasakan saat beliau bekerja. Umur yang dibilang sudah tua, tulang-tulang yang semakin renta lebih mudah merasakan sakit harus beliau tahan supaya bisa kuat menjalani kehidupan yang tidak mudah.

Ketokan demi ketokan dengan alat seadanya yang digunakan benar-benar menggamparkan asanya. Membanting tulang mencari nafkah yang halal untuk kebutuhan keluarga kecilnya itu dinilai sebagai ibadah bahkan termasuk jihad. Keikhlasan Pak Aji yang dijalani dalam mencari nafkah semata-mata hanya karena Allah Swt demi keluarga kecilnya. Rasa ikhlasnya menjadi hal utama dan sangat mendasar dalam bekerja mencari nafkah. Tidak ada yang bisa menghalangi semangat beliau. Tidak ada yang beliau takuti selain keluarga kecilnya kelaparan. Pak Aji sering kali tak mengindahkan bahaya yang mengancam dirinya.

Di tengah pandemi Covid - 19 sekarang ini, siapa yang tidak merasakan dampak buruknya? Bahkan orang yang mempunyai pekerjaan dengan gaji tetap dan tinggi pun merasakan dampak pandemi. Apalagi untuk orang yang berprofesi sebagai patri panci? Ditengah kebijakan pemerintah yang membatasi segala aktivitas di luar seperti menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bahkan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang memaksa masyarakat untuk tetap di rumah saja, Pak Aji tetap berjuang keras untuk menawarkan jasanya kepada masyarakat. Bukan untuk melanggar kebijakan, namun ada keluarga yang harus dinafkahi. Mengapa demikian? Orang Jawa bilang, "Ana dina, ana upa. Ora obah, ora mamah" mungkin itu sebagai pegangan Pak Aji dalam menjalani kehidupan. Ya, manusia butuh makan, dan jika kita tidak bergerak (kerja) maka kita tidak bisa mengunyah (makan). Terselip pertanyaan, apakah benar ketika orang yang "ora mamah" pasti selalu "ora obah"? Tentu saja benar, Pak Aji yang telah merasakan kebenaran dari pepatah Jawa tersebut. Hidup itu berusaha.

Kesulitan yang dirasakan Pak Aji dalam mencari nafkah tentunya sangat terlihat. Dirinya yang berprofesi sebagai patri panci harus menantang keadaan di mana pandemi membuat jasanya sangat sepi bahkan tidak laku. Tetapi dibalik rasa sulitnya itu, Pak Aji selalu tersenyum bahagia. Tersenyum dengan bahagia bukan berarti  tidak mempunyai beban serta kesedihan, dibalik senyumnya menyembunyikan kesedihan yang dirasakan olehnya. Pak Aji tentunya termasuk orang yang optimis karena sepahit apapun hal yang dihadapi, ia mencoba tersenyum dan menyembunyikan lukanya bahkan menandakan sebagai orang yang selalu bersyukur. Percaya bahwa rezeki hambanya telah diatur oleh Allah Swt. Pandemi bukan penghalang, pandemi hanya cobaan dan kehidupan akan terus berjalan.

 

Oleh :

Ingrid Nurtita Zalianty (SISWA SMA N 1 KRAMAT)

Anggota Gelitsa (Geliat Literasi SMAN SAKRA)

Komentar

Mantap,

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Menjadi Pelajar di Era Milenial dengan Nalar Literat dan Moderat Untuk Indonesia Kuat

Pelajar merupakan pewaris peradaban, apalagi di era milenial harus terus mengambil peran di garda depan untuk selalu produktif dan ikut serta dalam memecahkan problem kebangsaan yang ki

20/08/2021 12:58 - Oleh Tim Redaksi
BUDAYAWAN TEGAL SEPANJANG MASA: ATMO TAN SIDIK

     Terletak di wilayah pantai Utara Jawa (Pantura), membuat Tegal dijuluki sebagai Kota Bahari. Sebagai kota yang berdekatan dengan laut, mayoritas penduduknya ber

20/08/2021 12:54 - Oleh Tim Redaksi