• SMA Negeri 1 Kramat

  • Menuju Sekolah Adi Wiyata
  • Jl. Garuda No. 1a Bongkok

BUDAYAWAN TEGAL SEPANJANG MASA: ATMO TAN SIDIK

     Terletak di wilayah pantai Utara Jawa (Pantura), membuat Tegal dijuluki sebagai Kota Bahari. Sebagai kota yang berdekatan dengan laut, mayoritas penduduknya bermata pencaharian nelayan. Hal ini yang membuat karakteristik masyarakat Tegal identik keras. Apalagi dengan logat bahasa dan bicara yang dikenal “Ngapak”, membuat pengucapan katanya menjadi agak kental. Dialek yang digunakan Tegal merupakan salah satu kekayaan bahasa Jawa selain Banyumas. Walaupun memiliki kosakata yang relatif sama dengan Banyumas, namun dialek Tegal tidak sembarangan dinamakan ngapak. Perbedaan intonasi, pengucapan, dan makna kata yang membedakan dialek bahasa Tegal menjadi unik dan berbeda dari yang lain. Walau terkesan hanya digunakan oleh masyarakat Tegal, faktanya bahasa ngapak Tegal juga digunakan di wilayah kabupaten Brebes dan Pemalang bagian barat. Keunikan bahasa Tegal diapresiasi oleh tokoh budayawan Tegal. Beliau adalah seorang maestro pelestari dan pengembang warisan budaya yang masih mempertahankan penggunaan bahasa daerah dalam menulis karyanya.

    Drs. Atmo Tan Sidik (ATS) lahir di Brebes, 22 Februari 1961. Lahir dari sepasang suami istri H. Rasban Ali Ibrahim dan Hj. Jaya Subnah. Menyelesaikan pendidikannya di SD Negeri Pakijangan Brebes 1973, SMP Negeri II Brebes 1976, SMA Negeri 1 Brebes 1980, dan Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Study Ilmu Administrasi Negara Universitas Proklamasi 1945 Yogyakarta 1983. ATS menikah dengan seorang perempuan bernama Rini Anggraeni yang berasal dari Pesurungan lor, Tegal, Jawa Tengah. Dari pernikahannya, ATS dikaruniai 4 anak, yaitu 2 laki-laki dan 2 perempuan. Setelah menikah dan mempunyai seorang anak, ATS dan istrinya memutuskan untuk tinggal di Tegal. Kini, sudah 22 tahun ATS tinggal di Tegal, tepatnya di dekat Alun-alun Kota Tegal. Alasan ATS memilih tinggal di Tegal karena tata ruang yang strategis dan lingkungan rumah yang mendukung dengan keheningan yang nyaman untuk membaca.

    Saat menjadi mahasiswa, ATS pernah mengelola media kampus 45 Best mahasiswa. ATS juga menjabat sebagai ketua Badan Koordinasi Kemahasiswaan Unit Pengembangan Diskusi Ilmiah. Selain itu, ATS juga aktif menulis komentar di Kedaulatan Rakyat, Eksponen, Masa Kini, Berita Nasional, Tempo. ATS juga pernha mengikuti kongres HAIM yang dilakukan selama tiga hari. Selama kongres tersebut, ATS tidak sepatah kata pun mengucapkan sesuatu untuk menyampaikan pendapatnya. Bukan karena ATS orang bodoh, alasannya adalah ATS merasa malu karena saingannya orang-orang yang lebih hebat dari dirinya. Sejak saat itu, ATS bersumpah “Satu hari seratus halaman”. Buku pertama yang ATS khatamkan “Pergolakan Pemikiran Islam” karya Ahmad Wahid tahun 1983. “Pergolakan Pemikiran Islam” karya Ahmad Wahid menjadi buku pertama yang dikhatamkan ATS di tahun 1983.

    Kecintaan ATS pada membaca buku sudah tertanam sejak dini, karena keluarganya menanamkan hal ini. Kariernya dimulai saat mengikuti lomba, namun tidak lantas langsung mendapat juara. ATS terus berusaha hingga akhirnya mendapat juara satu. Akan tetapi, gelar juara tidak membuatnya menjadi sombong. ATS terus melahirkan karya-karya terbaiknya, karya pertamanya “Pembaharuan Etnis China Perspektif Sosiologi Politik” di tahun 1982. Dalam menulis karyanya, ATS memuat tentang filsafat Jawa, seni budaya, dan kearifan lokal. Selain cinta membaca buku, ATS juga cinta bahasa daerah. Cinta bahasa daerah ATS tuangkan dalam menulis karyanya, salah satu karyanya berjudul “Tidak Memuliakan Bahasa Daerah Tidak Barokah” menyerukan agar semua orang lebih mencintai bahasa daerah sebagai kekayaan budaya yang Indonesia miliki.

    ATS pernah menjabat sebagai Kepala Desa, tepatnya di desa Pakijangan, Bulakamba Brebes, Jawa Tengah pada tahun 1986. ATS dilantik menjadi kepala desa pada umur yang masih tergolong sangat muda, yaitu umur 27 tahun. Hampir sembilan tahun ATS menjabat sebagai kepala desa Pakijangan. Jasa yang ATS torehkan untuk desa Pakijangan dan sekitarnya adalah pembangunan sebuah bendungan. Selain menjadi kepala desa, ATS juga diangkat menjadi pegawai negeri sipil hingga menduduki jabatan sebagai Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Brebes 2010-2015. Di tahun 2015-2019, menjadi Kepala Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Brebes.

    Sosok ATS-lah, dibalik berdirinya Akademi Kebudayaan Tegal (AKT) bersama rekannya bernama Joshua Igho. Tujuannya mendirikan AKT adalah membuktikan ada kelemahan di bidang data sejarah dan harus terekam dalam budaya tulis. Tahun 2014, ATS mendapat penghargaan sebagai maestro pelestari dan pengembang warisan budaya dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Lalu karyanya yang berjudul “Dikendangi Wong Edan Aja Njoget” juga sukses mendapat apresiasi dari Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Buku yang berisi tentang nasihat praktis filosofis dalam menjawab tantangan zaman. Dan ATS kembali membuat sejarah pada karyanya, puisi yang berjudul “Kidung Urat Tapak Jalak” menjadi mukadimah buku biografi Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang berjudul “Jadul Kinanti” karya Widjiono Wasi, tepatnya di halaman xxxv-xxxvii. Dan kini, ATS menjadi Duta Baca Kota Tegal dan menjadi pembina Rumah Literasi yang didirikan oleh H. Toto Carto, SE.M.Si. (Ketua Silaturahmi Warga Brebes).

    Indonesia dilanda pandemi Covid-19, namun tidak mengurangi semangat ATS untuk berkarya. Selama pandemi, ATS menjadi narasumber untuk kegiatan webinar dan bedah buku yang dilakukan melalui via zoom. Acara yang ATS hadiri sebagai narasumber adalah Tadarus Kebudayaan Mengangkat Kearifan Lokal dalam Kajian Psikologi, Budaya, dan Agama; Tadarus Cinta Biarkan Aku Mencintai-Mu Hingga Menembus Batas Waktu; Pengarusutamaan Bahasa Penginyongan; Hamuba Ndeleng (Nderes Film Bareng). Sekiranya dua minggu sekali, ATS akan mengirimkan karya tulisnya untuk diterbitkan di koran setempat, seperti “Cerah Berkarya Tidak Tergoda Narkoba”; “Sumur dan Kegersangan Spirituaitas Manusia Modern”; “Kang Ahmad Tohari: Sumur Mangsa Ketiga.” ATS juga mengirimkan karyanya untuk dipublikasikan di situs online, seperti judul “Kolom Kolom: Dadia Penyair Sing Bener”. Kebanyakan dari karya ATS yang dipublikasikan di situs online menggunakan bahasa ngapak. Di tahun ini, ATS ditunjuk Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah sebagai juri anugerah penghargaan prasidatama 2021, khusus kategori puisi bahasa Jawa. Untuk karya terbarunya “Tadarus Kearifan Lokal” sedang dalam proses dan “Kentong Tutur Untuk Indonesia” proses launching.

    Sebagai generasi milenial, melihat sosok Atmo Tan Sidik dan perjuangannya, memberi kesan baru pada dunia literasi di mata generasi milenial. Cara penyampaian dalam karya tulisnya, mampu memberi sudut pandang baru. Singkat namun bermakna, kalimat yang cocok untuk menggambarkan Atmo Tan Sidik. “Bacalah, bacalah, dan bacalah” pesan Atmo Tan Sidik untuk generasi masa kini. Hanya kalimat sederhana  namun berdampak hebat pada diri generasi muda. Jika dilihat dari kalimatnya tidak ada pesan khusus, tetapi makna yang terkandung dalam kalimat sederhana itulah yang menjadi dukungan penuh Atmo Tan Sidik kepada generasi milenial yang minim membaca. Seperti yang pernah Atmo Tan Sidik katakan “Bacaan harus lintas agar kaya diksi” dari kalimat tersebut sebagai generasi milenial harus menjadikan buku sebagai media untuk melihat dunia yang lebih luas. Dunia bisa kita lihat hanya dengan duduk melalui membaca.  Banyak hal yang bisa kita pelajari dari Atmo Tan Sidik sebagai generasi milenial. Semangat dan kiprah Atmo Tan Sidik dalam dunia literasi seharusnya menjadi penyemangat generasi milenial untuk terus berkarya walau dalam masa pendemi.

 

Oleh : Zulfa Akmalie Ahadia (Siswa SMA N 1 Kramat)

Anggota Gelitsa (Geliat Literasi SMAN Sakra)

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Menjadi Pelajar di Era Milenial dengan Nalar Literat dan Moderat Untuk Indonesia Kuat

Pelajar merupakan pewaris peradaban, apalagi di era milenial harus terus mengambil peran di garda depan untuk selalu produktif dan ikut serta dalam memecahkan problem kebangsaan yang ki

20/08/2021 12:58 - Oleh Tim Redaksi
Patri Panci, Mengetok dengan Hati, karena Empati

“Hasil tidak akan mengkhianati usaha” tentunya tidak asing lagi ditelinga kita. Yang mana quote tersebut sering digunakan sebagai kalimat motivasi yang bisa menjadi pecut un

19/08/2021 14:47 - Oleh Tim Redaksi